In Another Life, Please Love Me Too
29 Maret 2026
Tepat di hari itu, seorang wanita memberanikan diri untuk menurunkan egonya yang selama ini tinggi banget hanya untuk satu orang laki-laki yang, somehow feels exactly like her type. The kind of person yang bahkan baru dilihat sebentar saja sudah bikin hati jadi nggak tenang. Wanita itu memberanikan diri bertemu dengan sosok pria yang ia kenal dari sosial media. Tapi anehnya, pria itu bukan benar-benar orang asing baginya.
Jauh sebelum mereka saling follow dan chatting. Wanita itu ternyata pernah beberapa kali sekadar stalking akun sosial medianya. Cuma lihat-lihat sebentar, lalu selesai. Udah gitu aja, hidup berjalan seperti biasa. Sampai akhirnya salah satu konten wanita itu-lewat di beranda pria tersebut. Dan dari situ semuanya mulai berjalan pelan-pelan. Pria itu mem-follow akun wanita itu, lalu mereka mulai chattingan. Sebenernya namanya terdengar aneh buat wanita itu. Look? She loves with his name. Wanita itu begitu enjoy sekali berkomunikasi dengannya. Selama berkomunikasi melalui sosial media, sungguh tidak pernah terjadi dalam hidupnya wanita ini meminta nomer pria tersebut.
Honestly, maybe he was surprised.
Tapi sebenernya wanita itu jauh lebih kaget dengan dirinya sendiri. Karena selama ini dia bukan tipe orang yang akan melakukan hal seperti itu. She always protects her feelings first. Selalu menjaga gengsi dan pura-pura biasa saja. Tapi kali ini beda. It felt like all the walls she built slowly fell apart just because of one person.
Pria itu membalas dengan memberikan nomernya.
Padahal kenyataanya, wanita itu malu setengah mati. Even while getting ready, she kept
questioning herself.
“Aku kenapa ini?”
entah apa yang ada dikepalaku saat itu sampai bisa senekat itu. Pria dan
wanita itu ngobrol cukup banyak. Sampai
di suatu momen obrolan, pria itu mengajak wanita itu untuk bertemu. And you
know what? Wanita itu meng-iya-kan
pertemuan itu. Pertemuan sempat mau batal karena wanita itu ada sesuatu yang
tidak bisa ditunda. Alih-alih membatalkan ternyata pria itu mau menunggu
beberapa jam agar mereka tetap bisa bertemu. Bahkan pria itu sempet menawarkan
untuk menjemput wanita itu di rumahnya. Tapi wanita ini sadar karena memang ini
pertama kali mereka bertemu tidak elok aja rasanya jika pria itu dibebankan untuk menjemput wanita itu di rumah. Akhirnya pria itu menjemput
wanita itu digang jalan raya rumahnya. Their first meeting was actually
very simple, tanpa sesuatu yang spesial atau dibuat-buat. Sempet ada kendala
waktu berangkat tapi bagi wanita itu tidaklah masalah dan yaa mereka memang
niatnya hanyalah untuk main bareng. Gak niat pakai hati, tapi-tapi kalau dia
act of service gini mau turunin footstep motor, beliin minum, bukain pintu, waktu
minuman tumpah ambilin tisu, dll yaa gimana yaaa. Wanita itu tau mungkin itu bare minimum pria
yaa tapi baginya yang biasa melakukan semua hal sendiri it's deeply mean to her. One
of somepoint when she first saw him, he’s so sweet, lovely with cats, kind, caring, handsome, and soft spoken. 😥
And somehow, that tiny little moment became one of her favorite memories. Sesimpel itu. Sesederhana tatapan, tawa kecil, dan obrolan random yang nggak penting. Sempet dibeberapa obrolan penting wanita itu seperti melihat dirinya sendiri tapi versi cowo. Dan beberapa kesamaan membuat wanita itu berkata, ”ini beneran ini, kok bisa ya”. Pria itu memakai sweeter abu-abu, kaos hitam, jogger hitam sederhana, dan tak lupa kacamata hitamnya, tapi entah kenapa justru itu yang bikin perasaan wanita ini jadi berantakan. Maybe because when you like someone, even the simplest version of them already looks perfect enough. Beberapa jam Wanita itu banyak bercerita. About random things, little stories, hal-hal receh yang mungkin bahkan gak penting buat orang lain. Tapi pria itu mendengarkan. Menatap matanya saat berbicara, menyimak sambil sesekali tertawa kecil.
And that was enough to make her heart feel full.
Tanpa sadar Perempuan itu mulai suka cara
dirinya merasa tenang saat ada di dekat pria itu. No pressure. No awkward
silence. Semua terasa ringan dan
nyaman, seperti sudah kenal lama padahal baru beberapa jam. Sometimes, people
become home in the most unexpected way.
Sayangnya nggak
semua pertemuan ditakdirkan untuk tinggal. Entah kenapa, sampai sekarang
perasaan itu nggak pernah benar-benar hilang. It never faded. Not even a little
bit.
Pria itu juga
nggak pernah terganggu saat wanita ini sesekali menggoda atau sekadar bercanda
kecil lewat whatsapp. Dan dari hal-hal kecil seperti itu, wanita ini
diam-diam masih menyimpan harapan.
A small hope that maybe, just maybe, in another life things
could be different. Maybe in another universe, mereka dipertemukan di waktu
yang lebih tepat. Di keadaan yang lebih baik. Dengan perasaan yang saling sampai. Karena kalau di kehidupan ini mereka cuma
sebatas cerita singkat, wanita itu cuma punya satu harapan sederhana :
”in another life, please love me too”
Ada beberapa hal juga yang bikin aku penasaran, kalau dari sudut pandang kali-laki itu bagaimana apakah mereka bisa merasakan hal sesederhana itu jadi berarti atau malah perempuan aja yang terlalu menghayati?
Apakah beberapa laki-laki bisa menerima kalau perempuannya yang duluan punya rasa ketertarikan? Atau ada juga yang malah mikirnya kaya ”duh ngapain sih cewe ini”
It’s funny how one person make you do things you never thought
you’d do before
Baik sangkanya wanita itu, hal ini terjadi karena ada sisi darinya yang disadari sangat diinginkan ada dari sosok ”my type” selama ini. Akhirnya sampe mikir kalo “memulai duluan tidak apa-apa”, yaa padahal apa-apa banget sih jadinya. Yet… She's still long for something equally genue. Having the same level of depth, some excitement an sincerity. Ahhh apalagi yang lucu? Kita jadi lebih puitis hahahaha.
Kadang juga mikir kok kisah cegil orang-orang seru sekali
yaa dan kok bisa sukses gitu loh hahaha. Kok wanita itu beda. She has had enough showing
him her side. If we weren’t ever meant to be us, semoga dikasih ikhlas yang
bener-bener ikhlas buat nerima kalau nggak semua takdir bisa kita skenario.
And in another life kita gak cuma kebagian ngomong “when yaa”
Sekarang wanita itu lagi di momen ngerasa, "kayaknya udah deh?"
Wanita itu gak mau dia jadi terbebani sama perasaan aku. Nggak mau dia merasa bersalah, atau sampai merasa punya tanggung jawab buat membalas semuanya cuma karena tahu wanita itu sayang sama dia. She'd rather be loved sincerely. Wanita itu bakal jauh lebih senang kalau dia balas perasaannya karena memang benar-benar sayang dengannya, bukan karena kasihan atau merasa harus.
Karena ternyata sayang sama seseorang bisa sampai di titik tetap pengen dia bahagia, even walaupun akhirnya bukan sama mereka itu gapapa. And if in another life mereka tetap nggak berjodoh, Wanita itu cuma berharap semoga dia dipertemukan sama jodoh terbaiknya. Dan begitu juga dengan wanita itu.
At least, semoga mereka bisa
sama-sama bahagia.
Komentar
Posting Komentar