Gadis itu

        Entah masalah apa yang membuat dia belum tidur di malam yang sudah larut ini. Setelah membersihkan diri dari debu jalanan dengan mandi air hangat, perasaannya tetap saja tidak karuan. "Memangnya aku tidak berhak bahagia ya Tuhan?" Teriaknya dalam hati. Sayup-sayup terdengar detik jam tak berhenti. Terlalu keras suaranya untuk satu orang di dalam ruangan gelap itu. Gadis itu masih duduk di lantai sambil bersandar pada tembok rumahnya. Gadis itu berkali-kali menyeka air matanya yang tak kunjung selesai. Berderai terus menerus seolah cobaan hidup menempa dia tanpa henti.

        Untuk gadis yang lelah seharian bekerja, seharusnya dia sudah lelap dalam tidurnya. Namun karena hati yang terus gelisah membuat dia sulit memejamkan mata. "Hidup tidak adil, hidup seringkali menjatuhkan harapan-harapanku tanpa memberi solusi harapan lain yang lebih baik. Aku selalu memaklumi kekerasan hidup yang aku terima selama ini. Dikhianati, dibohongi, dicampakkan, ditinggalkan. Bahkan untuk sekali ini saja saya memohon untuk dibersamakan dengan seseorang yang saya inginkan pun hidup seperti enggan sekali mengamini. Tidakkah saya cukup baik untuk skala manusia biasa? Saya menjalankan apa yang Tuhan saya perintahkan. Saya menjauhi apa yang Tuhan larang. Tapi kenapa untuk satu hal ini saja saya merasa menjadi manusia yang tidak pantas. Kenapa?" Runtuknya dalam hati, tanpa berhenti.


"She fell first, but he never felt. She loves him, but She is not mine. She has to accept the fact that she is not teh girl he want. Tell me, my dear, can a heart still break one it's stopped beating? Lord, please heal the pain that She is can't discuss to anybody, even in herself"


        Dia menyukainya dengan perasaan yang begitu menyenangkan, walau letaknya harus dari jauh, dengan hal-hal yang dia tahu saja, dengan keterbatasan yang bisa dia lihat, dengan banyak hal yang tentu saja masih jadi rahasia.  Tapi hidup berkali-kali menjatuhkan dia tanpa ampun. Menghalau semua jalan yang dia lewati. Bahkan tak pelak gadis itu harus berdarah-darah untuk mengambil secuil kebahagiaan yang Tuhan berikan kepada manusia lainnya. Entah sudah yang keberapa kali dia menangis tersedu untuk masalah ini. Seperti enggan belajar dari luka yang pernah ada, dia menikmati luka itu sambil terus memeluk duri-duri pengorbanannya. Malam semakin larut, gadis itu memaksakan tidur dengan pipi yang masih basah karna air matanya. Semoga esok ada kabar baik untuknya. Semoga...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Today is Nila Day!!🥳🫶🏿