Bare Minimum or Bare Necessities is normality or not???
Tulisan tentang hal ini mungkin sedikit “too late”. Tetapi tetap ku bahas karna sepertinya terdengar serius bila dipikirkan. Membahas bare minimum atau bare necessities memang perlu sedikit ke hati-hatian. Kurasa akan banyak pandangan kontra terhadap tulisan ini. Tapi ku coba menjelaskan sebaik mungkin sesuai sepemahamanku. Akhir- akhir ini sering kita ketahui tentang bare minimum dan bare necessities di beranda kita yang menyatakan seperti memaku ke standar-standar hubungan tertentu. Padahal definisi keduanya sangat jauh dari apa yang digembor-gemborkan selama ini. Tapi sebelum sampai pada tahap itu kalian tau tidak apa itu Bare Minimum or Bare Necessities. Singkatnya istilah tersebut dalam sebuah hubungan percintaan merupakan hal dasar atau basic yang harus dimiliki seorang lelaki maupun perempuan. Seseorang sejak lahir memiliki perilaku dasar yang diajarkan, seperti berbuat baik dan berterima kasih. Sementara jika dalam sebuah hubungan percintaan, bare necessities bisa berarti hal dasar yang harus dilakukan kepada pasangan. Seperti mengucapkan terima kasih sudah mengantar, tidak mengungkit hal buruk seperti masa lalu atau mantan, dan tidak meminta balas budi atas hal yang sudah dilakukan.
Dari definisi yang digembor-gemborkan keduanya sangat jauh
dari apa yang di gembor-gemborkan selama ini. Seperti misalkan “ih dia ngasi
aku hadiah pas ultah, dia jemput aku ke rumah, ih dia pajang fotoku di instastory,
ih dia bayarin makananku di restaurant atau ih jarang loh nemu cewe yang ga
umbar-umbar aurat, yang gak pake pensil alis, dan banyak dari mereka meremehkan
hal ini karena berpendapat bare minimum dan bare necessities. Padahal, kita
tidak bisa menyamakan standar kita dengan standar mereka. Mungkin untuk kamu
perlakuan dan effort mereka adalah suatu hal yang wajar dalam hubungan, lalu
kamu mengatakan hal itu sebagai bare minimum. Tapi yang perlu digaris bawahi
gak semua orang itu punya keberuntungan hidup yang sama dengan kamu. Bisa jadi
kan, dia melakukan itu tapi dengan penuh pengorbanan, pas jemput kamu dia harus
beli bensin padahal dibelakangnya ada wishlist yang tertunda selama beberapa
bulan demi jalan sama kamu, atau bayarin makanan pas sama kamu, dia jauh
hari merelakan uang jajannya atau gajinya yang ga seberapa demi bisa makan
bareng sama kamu. Dibalik effort itu kalian masih mau meremehkan hal itu? Dia ga
seberuntung kamu tapi dia masih berusaha semampu dia, tapi kamu malah
meremehkan effort yang kau sebut “bare minimum” itu?
Jadi hormatilah setiap perlakuan baik orang, kamu tidak bisa
menyamaratakan standarmu dengan standar orang lain. Tapi dibalik itu semua ada
satu hal yang selalu aku pegang teguh dan ku jadikan prinsip hidup sampai saat
ini. Effort yaudah effort aja, tetap berbuat baik yaa berbuat baik aja. Urusan dibalas
apa tidak itu semua bukan kendali kita. Tidak ada yang salah saat kamu tulus
pada siapapun orang yang kamu temui, dalam porsi yang sewajarnya. Aku tau
gimana rasanya kalo udah effort tapi hasilnya tidak memuaskan. Bukan salah
effortnya yaa hehehe itu hanya masalah ekspektasi aja sih. Tapi lagi-lagi di
dunia ini gada yang namanya sayang tanpa pamrih. Semua orang ngasih dengan
ekspektasi menerima sesuatu. Walaupun yang diterima itu gak langsung dari orang
yang kita kasih tapi kayak perasaan yang kita dapetin waktu kita ngasih ke
orang lain.
Understand this deeply:
Jangan buat seseorang menyesal mengenalmu, tapi buatlah dia menyesal
karena kehilangan sosok dirimu – Ali Bin Abi Thalib
Dan satu quotes lagi sih menurutku yang cukup deep juga
Cinta itu bukan take and give, cinta itu give and give
memberi dan hanya memberi. Memberi cinta kepada diri sendiri lalu memberi cinta
kepada orang lain.
Cinta itu gak pake itung-itungan. Kalo udah mulai mikir
pengorbanan itu namanya kalkulasi. – Sujiwo tejo. (ini susah banget sih menurutku)
Entah sudah berapa banyak orang yang mengingatkanku untuk
tidak boleh terlalu baik biar gak dimanfaatin orang lain, karena itu sama saja
memberikan kesempatan orang lain menyakitiku.
Aku cuma bisa tersenyum dan menjawab,
“Jika aku berbuat baik kepada orang lain dengan niat yang
terselubung, maka orang lain berhak untuk menyakitiku. Tapi jika aku benar-benar
berbuat kebaikan dengan niat yang tulus lalu terbiasa seperti itu, maka apapun
yang akan dikatakan atau diperbuat orang lain tidak akan berarti dan tidak akan
bisa menyakitiku. Manusia diciptakan bukan untuk dimanfaatkan, tapi untuk
dicintai dan dihargai.
Ajaran agamaku memang mewajibkan kaumnya untuk bersikap baik kepada dunia (semua orang) bukan hanya orang-orang tertentu bahkan kepada semua makhluk-Nya. Membiasakan diri untuk bersikap baik dan selalu tersenyum. (walaupun sesekali aku murung dan jutek juga sih tapi itu bawaan muka dari sononya huhuhu). Jika dunia (semua orang) tersenyum kembali, itu akan menyenangkan. Tapi jika tidak , itu juga akan tetap menyenangkan. Karena meskipun kita bertemu dengan keras dan kejamnya dunia, kita masih sanggup berpegang teguh pada prinsip, niat baik, kepribadian dan senyum yang selalu tulus.
Komentar
Posting Komentar