DAY 5 of 30 Days: Bapak Fadil dan Ibu Ida.

Aku adalah anak pertama dari Bapak Fadil dan Ibu Ida. Aku punya 2 adik, perempuan dan laki-laki. Selain aku adalah anak pertama, aku juga cucu pertama dari 2 keluarga tersebut. Bisa dibayangkan sudah. Hehehe :v. Berbicara tentang mereka, fregmen yang ku ingat sepanjang hidupku adalah waktu ku begitu banyak bersama dengan Ibu karena Bapakku lebih sering ke luar kota untuk bekerja. Dan Ibu ku adalah perempuan kuat yang aku kenal selama ini. Tiga kali melahirkan anaknya sama sekali Bapak tidak menemani karna memang kebetulan Bapakku sedang berada jauh di luat kota. Kalau ditanya siapa yang lebih dekat? Tentu dengan lantang aku akan menjawab, Ibu. Dengan Bapak, hubungan kami baik-baik saja namun, berbeda.

Kami bukan keluarga hangat dan selalu mengumbar cinta lewat kata dan hujan pelukan. Waktu aku kecil, mungkin sering. Tapi sepanjang ingatanku saat beranjak dewasa, terutama dengan Bapak-- aku jarang sekali memeluknya karena aku ingin memeluknya. Entahlah, seperti ada jurang yang begitu jauh dan tak bisa ku jembatani dengannya. Mungkin karna ia begitu jarang di rumah, dan aku hampir tak pernah berinteraksi terlalu banyak dengannya. Meskipun begitu, aku tak pernah merasa ia tak menyayangiku; entah kenapa, aku semacam langsung mengerti bahwa ia membahasakan cintanya kepadaku lewat bahasa yang lain. Seperti;

Bapak selalu membelaku setiap kali Ibu marah ketika nilaiku jelek. Bapak akan selalu siap mengantarkanku kemana saja jika ia sedang di rumah dan tak pernah menolak sama sekali jika memang ia tak ada kegiatan lain. Bapak itu penjaga rasahasia yang baik. Kami punya rahasia yang bahkan Ibu tidak tahu. Rahasia apa? Sederhana sekali, tapi aku tidak akan menyebutkannya di sini sebab itu rahasia kami. Hahaha.

Aku pernah menuliskan puisi untuknya, yang aku yakin tidak pernah ia baca karna memang tidak pernah aku tunjuukan padanya. Aku ini memang paling payah menunjukkan perasaanku secara langsung, sungguh. Jadi aku akan menuliskan perasaanku diam-diam, hingga saat ini pun bahasa cinta kami kurasa masih sama, tak ada yang berubah. Pun aku kepadanya, aku membalas bahasa cinta Bapak lewat perilaku atau ya hal yang semacam itu. Ada sebuah fragmen ingatan yang tak pernah aku lupa hngga saat ini, yang kuharap sempet kusampaikan kepada Bapak. Dulu waktu aku masih sekolah, Bapak beberapa kali menjemputku. Aku tak pernah keberatan dijemput siapapun karena pada dasarnyaaku tak peduli, yang penting aku pulang ke rumah. Sudah. Kemudian Ibu sempat bilang, "Nak, Bapak bilang, kayaknya Nila malu deh dijemput saya." Yang mana tentu saja kusanggah karena aku tak pernah merasa demikian. Semoga saja Ibu menyampaikan sanggahanku kepada Bapak karena aku tak mau is asalah mengartikan diamnya anak remaja ingusan. Justru aku senang karna tiap kali Bapak jemput dia tidak pernah membiatkan anaknya kelaparan di jalan. Pasti mampir ke suatu tempat untuk membeli sesuatu apapun itu. Bapak tiap pulang kerja sering sekali mengabari anaknya untuk tanya minta dibelikan apa, di rumah sudah makan semua ta? bukankah itu sangat manis sekali. :)

---Air Mata Ayah

lalu bagaiaman rupa air mata ayah?

aku tidak pernah tahu ayah bisa menguntai air matanya jadi seperti apa saja;

matanya tak pernag hujan namun mendung kerap lahir di kelopak matanya.

Berbanding terbaik dengan Bapak, Ibu membahsakan cintanya dengan lantang. Lewat omelan, pelukan, masakannya yang maha enak di dunia, atau lewat telponannya yang selalu menanyakan kapan anaknya pulang. Tapi tetap, tak pernah ada kata cinta di antara kami. Setiapkali aku dan adik-adikku mencoba bermanis-manis padanya, ia akan berkata, "Hala, pret?" dengan wajah ngenyek kemudian dilanjutkan dengan omelan yang baru ia ingat yang dengan senang hati langsung ia hujani padaku meskipun aku yakin, ia senang mendengarnya. Ia hanya tidak tahu cara menanggapinya saja. Ibu, ia selalu da dalam setiap langkah dalam hidupku. Ia bak Ibu singa yang begitu menjaga anaknya. Ada kalanya ia memanjakanku, ada kalanya ia menempaku sedemikian rupa agar aku tidak terlalu manja, ada kalanya pula, saking menjaganya hingga terkadang aku merasa seperti tak bernapas sebab terkadang ia menggenggamku terlalu erat hingga aku meronta. Iya, tentu. Aku hanyalah anak remaja pada umumnya yang berontak dan haus hasrat ingin membuktikan diri. Aku menentang semua yang ia inginkan, dan melakukan hal sebaliknya. Tapi pada akhirnya lagi-lagi aku tidak bisa melakukan itu semua. Hubungan kami pernah begitu rumit, isinya betul-betul hanya pertengkaran dan aku sampai merasa sesak. Sampai pada titik dimana kita berdua saling berbicara dari hati-kehati bahwa bolehkah aku jalani hidupku versiku bu tanpa perlu menentangmu? ingat betul kalimat itu pernah aku ucapkan pada beliau dan berakhir dengan tangis kami berdua. Cukup drama bukan. Namun meskipun begitu, Ibu tetaplah Ibu. Meskipun kami sering bertengkar ia tetap akan mengirimkan aku makan, mengomeliku lewat telpon sebagai tanda bahwa ia khawatir dan rindu namun tak tahu cara menyampaikannya. Meskipun kami pernah saling mogok bicara, ia tidak pernah berhenti menyuguhkan minuman kunyit untukku tiap pagi setiap kali aku di rumah. Semarah dan segalak apapun, ia yang pertama hadir untukku. Selalu. Hingga hari ini. Jangan tanya apakah aku menyesal pernah begitu keras kepala? Jika diingat lagi aku dan keangkuhan masa mudaku, sungguh ingin menoyor kepalaku sendiri.

----

Mereka jauh dari orang tua yang maha sempurna, namun tak pernah terbesit sekalipun dalam benakku bahwa aku menyesal dilahirkan dan memiliki mereka sebagai orang tuaku. Dengan segala ketidaksempurnaan yang sempurna, aku tahu mereka sudah mengupayakan segala yang mereka bisa untukku dan adik-adikku. Mungkin saar ini aku masih belum menjadi orang tua dan belum merasakan apa yang mereka rasakan. Tapi tetap rasa hormat dan terima kasihku ini aku tujukan untuk mereka berdua. Terima kasih Bapak Fadil dan Ibu Ida. Atas cinta yang tak pernah nyaring lewat kata-kata namun begitu lantang dalam perbuatan. Terima kasih karena tak pernah menyerah menghadapiku yang keras kepala. Teima kasih sudah menanamkan yang terbaik dan menempaku menjadi aku yang sekarang. Aku tak akan pernah menjadi anak perempuan manis yang mungkin kalian dambakan. Tapi semoga, aku yang seperti ini sudah cukup membuat kalian bangga. 

Aku sayang kalian. Sayang sekali. Dua kali. Berkali-kali.

Big Hug. With Love. Nila Adillah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Today is Nila Day!!🥳🫶🏿