Terima kasih, Juni.
Satu bulan terlewati lagi. Senang sedihnya semua jadi teman. Ada kedatangan ada kehilangan. Sungguh rapuhnya hidup, ternyata. Sungguh tipisnya jarak bernafas dan berhenti nafas selamanya. Sungguh lemahnya hubungan, ikatan bahkan pertalian darah. Saat berada di titik lemah, selalu yang kusebut rumah terasa ambyar dan serabutan arah. Selalu.
Aku masih sehat, aku pun berbisik pada bumi, “Aku masih diberi hidup oleh Tuhan. MasyaAllah. Lalu aku berjanji untuk menjadi manusia yang lebih hening. Sebab ternyata aku tak paham apa-apa….
Tenang… ikhlas
Aku harus sadar diri pada bagian ini. Karena hidup yah memang begini. Seringkali aku menaruh hati pada suatu tempat yang nyatanya tempat itu belum siap membawaku. Sadari, ada suatu hal di dalam diri yang tidak sedang baik-baik saja. Dan itu sesuatu yang baik. Perasaan tidak nyaman itu harus diakui dan diterima. Sesuatu yang bikin bingung dan sedih emang sudah seharusnya dilepasakan. Semoga aku, kamu, kita, mereka, dan semua selalu diberi kekuatan, meski hidup tak pernah jauh dari rasa kehilangan.
Terima kasih, yaa Allah...
Terima kasih, Juni.
Komentar
Posting Komentar