DAY 3 of 30 Days: Reminiscing memories.
Tidak ada yang mudah dalam menulis kenangan itu, kawan.
Waktu membaca topik tantangan ini rasanya aku tidak tahu apa yang akan aku tulis tentang kenangan ini.
Bagiku, kenangan itu ibaratkan pisau bermata dua. Setiap dari kita pasti mempunyai kenangan yang memang membuatmu tetap hidup untuk memupuk harapan, dan ada juga yang menoreh luka begitu dalam hingga mengingatnya saja seolah mengelupas luka yang sudah mengering secara paksa, atau malah bak menabur garam di luka yang masih menganga.
Tapi yang aku pahami, semanis atau sepahit apa pun kenangan. Kita tak akan pernah bisa memisahkan diri darinya. Seperti jiwa dan raga, tubuh dan bayangan. Kamu terbentuk dari apa yang kamu lakukan hari ini dan apa yang telah kamu lakukan di hari-hari kemarin yang telah membeku dan berubah menjadi fragmen ingatan dalam kepalamu.
Aku yang saat ini adalah aku yang terbentuk dari masa lalu dan pilihan-pilihan yang aku ambil dalam hidupku. Apakah semua pilihanku tepat? Tentu tidak. Siapa aku bisa tahu pilihan mana yang tepat untukku?
Dan sepertinya, tak ada satu pun manusia di dunia ini yang seratus persen tahu pilihan yang tepat untuk dirinya. Dirasa baik? Mungkin. Dirasa tepat? mungkin. Tapi sudah pasti tepat betul tak akan kau melakukan kesalahan? Belum tentu. Sebab itulah, sepertinya kita memang hidup dan dilahirkan untuk terus belajar, dari kebenaran pun kesalahan. Dari apa yang sedang terjadi dan tentu saja dari kenangan.
— — —
Saat aku punya banyak waktu melamun, aku tak akan menyangkal itu. Aku sering mengunjungi kenangan-kenangan di dalam kepalaku. Mulai dari kenangan paling manis yang sungguh ingin aku ulang kembali, pun kenangan paling buruk yang kadang membuatku membenamkan wajah di bantal kemudian malu sendiri –atau terkadang, marah lagi.
Apa yang aku lakukan agar tak berlarut-larut dan tersesat dalam wadah kenanganku? Setiap kali habis berjalan-jalan di sana, aku mengingatkan pada diriku sendiri bahwa,”Apa pun yang aku ingat, tak akan terulang. Dan perasaan rindu yang aku rasakan adalah perasaan rindu kepada diriku sendiri, atau rindu merasakan perasaan tersebut.” Masuk akal tidak? Hahaha.
Atau kalau habis mengingat kenangan buruk, lalu aku merutuki betapa bodoh dan tololnya aku. Atau betapa marahnya aku dan muncul segala,’Seandainya’ atas apa yang seharusnya aku lakukan di masa lalu untuk menghindari itu atau menyelesaikannya dengan cara lebih baik.. Semua yang menyakiti selain harus disembuhkan juga harus diikhlaskan. Sebab ada kenangan yang tidak bisa dipanggil lagi.
Saat semua itu terjadi aku akan pergi ke cermin lalu menatap mataku,
kemudian dalam hati berkata,” Its okay this shall to pass. Maafkan semua kesalahanmu. Tak apa, karena semua sudah terjadi dan sudah terjadi jauh di belakangmu. Tak ada yang bisa kamu lakukan selain menyadari bahwa itu adalah bagian dari dirimu. Yang telah hilang tak perlu kau cari lagi, dan yang pergi pun tak perlu kau memintanya untuk kembali. Sebab sebaik apa pun kamu berusaha menghindari kesalahan, kamu pasti akan melakukan kesalahan lain sekecil apa pun. Peluk semua rasa bersalah itu, akui bahwa perasaan itu ada dan ingat baik-baik untuk menjadi bekalmu kelak. Jangan lelah memperbaiki dirimu karena itu adalah salah satu pekerjaan seumur hidup. Terima kasih sudah menemani hidup ini dengan lebih sederhana.”
Sepeerti kata nadin, “Hal-hal yang lalu itu kini bisa aku tengok dengan sedikit air mata namun tetap sambil tertawa.”
Komentar
Posting Komentar