DAY 1 of 30 Days: I need to describe. Me.
Lama tidak duduk dan menulis untuk diri sendiri. Saat ini aku berencana untuk memulai menulis lagi dan meninggalkan jejak dalam tantangan menulis selama 30 hari.
Di usia yang tidak muda ini, banyak dari kita yang merasa kesulitan dalam mendeskripsikan diri sendiri “who I am” kan?
Aku pun juga demikian, pernah suatu ketika aku terdiam di depan sebuah cermin. Aku perhatikan pantulan diriku sendiri. Tak jarang aku tak pernah sepenuhnya dan sebenar-benarnya menjadi diriku sendiri.
Aku melihat perempuan itu seperti langit. Dia tetap menerima segala hal dengan apa adanya, kadang ia gelap berduka, atau entah ia harus berganti menjadi warna biru, warna jingga fajar dan senja, atau warna kelabu mendung. Bahkan hujan dan sesekali pelangi menghampiri.
Dalam keheningan, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berdiam diri. Sudah lama ia bersembunyi dalam cangkangnya sendiri, karena terlalu takut disakiti. Sering kali dunia tidak ramah seperti yang selalu ada dalam bayangannya. Ia berlari dari keriuhan saat semua terasa penuh dikepalanya.
Mandiri membuatnya mengalah dalam hal apa saja hingga ia dijuluki sebagai si kurang peka. Pengingat yang baik dalam momen apa saja tapi ia juga sangat pelupa dengan dirinya sendiri. Bahkan keteledorannya dan keleletannya sudah mendarah daging. Dibalik sikap dinginnya Ia seorang dengan berbagai ide dan pemberi kejutan nan handal. Ia sangat keras kepala. Saat marah ia lebih memilih diam dan menutup mulut rapat-rapat karena ia tahu yang keluar tangis dan mungkin kalimat-kalimat menyakitkan yang malah akan memperkeruh suasana lalu berganti dengan helaan nafas dan memilih untuk menjaga jarak saja
Namun di dalam kepalanya, ia sedang merakit luka, kecewa, amarah yang tidak akan ia tumpahkan begitu saja. Ia begitu suka memendam dan mengulur waktu sehingga jadi duri menyebalkan di dalam hati dan pikirannya. Ia hanya akan memperlihatkan keresahan, kesedihan, kegelisahan serta sisi manusianya kepada orang yang sungguh ia percaya.
Apa yang terjadi jika hatinya terluka karenamu?
Ia akan mengubur dirinya untukmu lebih dalam, membangun dinding lebih tinggi dan mempersembahkan senyum yang lebih manis dari biasanya pada jarak yang tak lagi tergapai olehmu.
— — —
She’s not the best, she knows. But she’s doing everything that she can to make everyone proud of her. And she's the strong girl.
Katanya harus bangkit harus semangat, tapi jadinya nangis terus karena bikin banyak orang kecewa dari beberapa ketidak beruntungannya saja.
Perempuan itu adalah aku, dan untuk semua kebaikan serta keburukan yang kumiliki. Aku sudah dititik menerima segalanya. Biar semua berjalan apa adanya, berlalu dengan semestinya, dan berakhir dengan seharusnya. Tetaplah seperti bunga matahari yang menjadi menyenangkan bagi siapa saja yang melihat dengan memberi kesan yang baik kepada orang-orang yang kenal aku seumur hidup dan memberi manfaat bagi sesama.
Komentar
Posting Komentar