Puncak Pilu Membiru

Hari ini aku berada dalam puncaknya. Entah aku harus bagaimana lagi. Mata ini sudah tidak mampu membendung air yang perlahan ingin jatuh. Siang tadi, tatlaka hujan, deruan suara tangis begitu tersamar bersama derasnya air hujan. Cukup bersyukur dengan itu semua. Setidaknya dengan begitu tidak ada yang tahu kalau aku menangis. Piluh rasanya. Tadi aku ngajar di tempat biasa. Dan kai tau saat aku gak bisa mengerjakan soal yang dikerjakan muridmu, aku ingat kamu. Ya Tuhan hal sekecil ini saja aku mampu mengingatmu. Aku ingat pas aky minta bantuan untuk mengerjakan soal buat muridku. 


Tepat saat pulang tadi. Disepanjang perjalanan aku menangis kejer. Tak hentinya aku beristigfar. Sembari berbicara dengan diriku sendiri. Aku memang sering sekali punya kebiasaan seperti itu dari dulu. Entah kenapa saat diperjalanan itu seolah-olah mengingatkan aku untuk pulang. Karena aku merasa kamu adalah rumah. Rasanya perlu sekali untuk kita bertemu. Tapi apakah kamu mau? Berharap bukan pertemuan terakhir. Tapi kalo pada akhirnya nanti itu jadi pertemuan terakhir yaa tidak apa-apa. Aku akan coba terima semuanya. Baik-baik jaga dirimu disana...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Today is Nila Day!!🥳🫶🏿