Hampir Lulus

Ini adalah kisah seorang wanita yang mana takdir selalu berkata lain untuknya...
Iyaa... hari-hari kemarin adalah hari penentuan gelombang sidang skripsi. Khawatir pasti, itu manusiawi. Setiap kali rasa ke khawatiran dalam hidupnya itu muncul gak tau kenapa dia selalu ingat quote dari presiden jancukers sudjiwo tedjo tentang menghina Tuhan (cari sendiri dan dengarkan). Tiap kali mendengarkan selalu bercampur dengan tangisan. Bagaimana dia tidak menangis ketika dia khawatir maka kata mbah tedjo dia menghina Tuhan. sembari nangis dia berdoa” Ya Tuhan, harus bagaimanakah ini, skripsi masih belum selesai, teman banyak yang nikah lagi, apakah rasa khawatir ini bagian dari menghina Engkau. Sungguh tak pernah ada maksud dalam hati untuk menghina Engkau Tuhan. Aku manusia biasa Tuhan yang mudah rapuh. Untuk kali ini saja izinkan saya menangis dalam kekhawatiran ini agar esok saya bisa tersenyum bahagia.” Ujar dia dalam peluh tangisan.
Dia adalah seorang mahasiswa jurusan pendidikan. Jurusan yang sebenarnya tidak dia inginkan, tapi demi orang tua harus dia jalankan karena dia tidak bisa meyakinkan akan pilihannya. Sejak SMP dia suka mata pelajaran kimia. Baginya kimia itu hal menakjubkan. Saat kau belajar kimia maka kau akan mempelajari sesuatu yang ada namun tak terlihat layaknya Tuhan, Cinta Kasih Sayang. itulah kenapa ketika di SMA (eh salah dia di MAN) dia ambil jurusan IPA. Saat kelulusan dia ingin melanjutkan apa yang dia inginkan yakni ambil jurusan kimia. Tapi apalah daya takdir berkata lain, orang tuanya menginginkan dia untuk mengambil pendidikan. Iya mencoba mengambil celah dengan memilih jurusan pendidikan kimia. Tapi tetap saja orang tuanya menginginkan anaknya masuk pendidikan untuk anak-anak. 
Suatu hari tanpa diketahui orang tua dia daftar kuliah di universitas negeri islam, dan dia keterima di jurusan PAI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tapi entah kenapa karena ibunya berat hati melepaskan anaknya untuk merantau. Padahal dia ingin sekali merantau, merasakan bagaimana rasanya hidup sudah sendirian jauh dari orang tua dan keluarga. Ya semoga suatu saat nanti dia bisa berjodoh dan merantau bersama sosok pria Tuhan yang akan mendampinginya. Dia pun memilih untuk kuliah di universitas swasta di daerahnya. Sedih... pasti. Tapi namanya hidup must go on never give up. Dia pun kuliah di jurusan pendidikan. Awal di perkuliahan dia merasa tidak senang sekali. Tapi sejak bertemu dengan salah satu organisasi merah dikampusnya dia mulai mencintainya, jas merah yang katanya hanya dipake saat sidang skripsi saja eh dia pake setiap event organisasi merah itu. Dia mencintai organisasi ikatannya, dan tentunya mencintai jurusan kuliahnya sekarang. Semua dia pelajari agar dia bisa selevel dengan teman-temannya yang kuliah di negeri. Alhamdulillah Tuhan memang baik kepadanya, dia disana mendapat beasiswa kuliah selama 1 tahun, dan sering mewakili kampusnya diberbagai acara. Lombok:)... Madura Gili Labak, Jakarta, Malang, Bojonegoro, Nganjuk, Lamongan. dll. Uang saku dan transport gratis dari kampus. Ah bahagianya pada waktu itu. Tapi suatu ketika iya dicoba oleh Allah dicabut beberapa nikmatnya. Mungkin karena kurang sodaqoh ya. Hehe kehilangan iya dia kehilangan. Tapi diselah kehilangan dia juga banyak menemukan. Akhirnya ini sudah di penghujung bangku perkuliahannya, sedang menuntaskan skripsinya. Dan drama skripsi pun juga dimulai. Ah dulu sejak semester 6 dia berencana ingin ambil penelitian kuantitatif pada mata pelajaran eksak saja. Dan tiba-tiba jreng jreng jreng ter... ter...
Dia berputar arah jauh di semester 7, ambil penelitian kualitatif dan kau tau mata pelajaran apa.. bahasa Indonesia dan ambil variabel semi psikologi gitu Emotional Intellegensi. Ohh... no...
Kualitatif yang harusnya ambil beberapa sampel ternyata tidak bisa dia lakukan. Karena tidak ada alat ukur untuk sebuah hal afektif seperti kecerdasan. Dan akhirnya dia pun mengambil 40 subjek penelitian. Banyak??? Banget apalagi ini kualitatif. Lama pasti. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan “Hala... sama-sama lulusnya aja pake bikin skripsi susah-susah.” Dia hanya menjawab dengan senyuman, sembari dalam hati berkata suatu kepuasan sendiri ketika kamu berhasil menyelesaikan suatu hal yang sulit. Tuhan tidak memberikan kemudahan untukmu memang tapi disini Tuhan memberikan kekuatan untukmu melalui perjuangan yang ada.


Setiap hari dia berjuang dan selalu mengerjakan orang-orang terdekat selalu memberi semangat dan menyuruh untuk tidak menyerah dan tidak merasa puas dulu, karena dia sering kali malas kalau mengerjakan skripsi kecuali pas sudah waktunya kepepet.
“Klo cuma diliatin ya gak bakal selesai...πŸ˜’
“Jangan puas dulu masih ada skripsi yang lebih panjang setelah itu...”
“Semangat mbak, jangan tunda lulusmu”
“Ayo segera selesaikan biar bisa sidang bareng-bareng wisuda bareng”
Terima kasih gelembung-gelembung supportnya sampai saat ini...
Hari ini dia daftar sidang, tinggal menunggu harinya tiba dan dia akan dinyatakan lulus oleh dosen pengujinya.
(From Icampus) Tenang, kamu tidak perlu khawatir berlebihan. Ini hanya skripsi kok. Kamu tidak sedang menulis untuk memenangkan hadiah nobel. Jadi santai saja…. Yaa paling gak tidur semingguan aja gitu πŸ˜‚. Skripsi adalah sebuah hasil kerja keras. Skripsi itu diciptakan untuk mereka yang tekun dan rajin, bukan yang pintar dan genius. Artinya, yang pintar dan genius pun perlu tekun atau rajin untuk menyelesaikan skripsi. Jadi, start with creativity, finish with integrity.  Selamat menyelesaikan skripsi mu!


*_'Dan setiap jalan yang kau ambil untuk menjauhi takdir sebenarnya adalah jalan menuju takdir'._*

#Quote
Maafkan dia yang masih suka menggunakan quote ini yaa


With love,





DIA

Komentar

Postingan populer dari blog ini