Kamu bahagia, Aku bahagia. (Definisi “Bahagia”)
Hari ini aku belajar satu hal lagi dalam hidup ini. Iya aku belajar untuk bahagia. Ketika seseorang yang kamu cintai mencintai yang lain. Kau harus melepaskannya karena tak mungkin kau bersama dengan mereka yang sudah bersama. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Tapi setiap individu berhak untuk bahagia, dia berhak memilih jalan hidup bahagia bersamanya dan kamu berhak memilih bahagia melepaskannya. Definisi bahagia tidaklah harus bersama, tapi bisa sama-sama mendoakan itu pun juga definisi dari bahagia itu sendiri. Mungkin jalan kita sama tapi tujuan kita berbeda. Itulah kenapa kita tidak bisa hidup bersama.
Aku tak pernah belajar untuk melupakan karena semakin aku belajar melupakan rasa yang ada akan tertanam kuat dalam ingatan. Aku biarkan rasa ini tumbuh dan gugur semaunya. Dalam hati pernah ku merasakan, Aku tidak akan pernah bahagia dengan keputusan yang percuma ini. Aku selalu membayangkan wanita mana yang bahagia membayangkan kisahnya seperti aku? Beri tahu aku perempuan mana yang mau cintanya digantung selama berbulan-bulan dengan musim yang berbeda-beda? Hati ini sudah kering keras sekali, kamu tahu?
Layaknya seorang penjajah kau selalu menuntutku untuk terus bertahan menanti. Sampai kapan? Sampai aku lelah? Aku sudah lelah. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Sudah banyak sekali semoga-semoga yang aku beri amin sendiri di sujudku. Sudah hampir mati hatiku menuruti semua egomu. Sempat berfikir, mungkinkah yang kuperjuangkan, yang ku cintai dengan pengorbanan besar, yang menyuruhku jangan berhenti mencintai adalah seorang tanpa hati tanpa perasaan?
Akhirnya aku tersadar aku harus bahagia ada ataupun tanpanya. Sebab semua ini hanya soal rasa dan jalan. Rasa bahagia dan jalan ketentuan dari-Nya.
Komentar
Posting Komentar