Hari Menetas 54


Sejauh ini aku anggap aku baik-baik saja. Organisasiku... tempat aku ditempah dalam religiusitas intelektualitas dan humanitas. Dan aku anggap tahun ini adalah tahun perelaan dimana aku akan merelakan semua hasil perjuanganku yang sudah ku lakukan sejauh ini. Tahun dimana aku memutuskan untuk berhenti memperjuangkanmu. Bukan karenamu tapi karenannya, iya ini terlalu menyakitkan. Maafkan aku yang tak bisa menjadi sosok tangguh lagi untukmu. Kau tau betapa rapuhnya aku saat-saat ini. Ku coba untuk tegak berdiri, kucoba untuk tetap tertawa lepas, ku coba untuk senyum bebas. Tapi saat dalam kesendirian aku hanya duduk termangu, menangis dalam keheningan. Banyak yang bertanya kamu kenapa? Ku hanya bisa menjawab dengan senyuman saja, tidak adakah rasa pedulimuuntuk tetap berjuang lagi disini? “Aku diam”. Diam isyaratku terluka dalam. Diam membuat aku kembali pada cerita-cerita yang tak bisa ku selesaikan dengan baik. Diam membuatku tersadar akan genggaman-genggaman yang sudah mulai asing. Diam membuat bendungan air mata ini tidak mudah berhenti jatuh. Diam membuatku menjadi sosok yang berbeda, yang telah kehilangan segalanya, tawa... cinta...
Diam yang mengajarkanku apa arti memulai, berjalan, dan akhirnya selesai. 

Mereka bertanya kembali tidakkah kau mencintainya? Kalau aku tak mencintainya mana mungkin aku akan memakainya seperti saat milad kemarin. Iya aku (masih sangat) mencintainya. Aku merindukannya, aku ingin memperjuangkannya. Yapi bagaimana aku bisa mencintai dan memperjuangkan tanpa adanya dukungan. Selalu ku katakann jangan pernah berjalan di depan atau dibelakangku, berjalanlah disampingku dan temani sisa-sisa akhir perjuanganku disini tapi kau memilih berbeda dan aku disini tak bisa berbuat apa apa. Akhirnya aku pergi, dan pulang ke pangkuan ayah bunda. Sembari berkata “Masih adakah kebahagiaan yang tersisa untukku setelah semua ini terjadi?”

#abadiperjuangankami
#happymilad
#54 
#14maret1964

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Today is Nila Day!!🥳🫶🏿