Could it be Worse!!!!!

(Bacanya sambil dengerin lagu fix you versi H&C :D)

Suatu hari seorang anak perempuan bertanya kepada ibunya yang sedang menjahit, "Bu, apa ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta?". Seketika itu ibunya menghentikan jahitannya dan menjawab" Nak, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan ketika kau mengingatnya. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas saat kau memikirkannya. Merasa senang sekaligus cemas menunggu hari esok ketika kau bermimpi tentangnya." Kenapa nak? Pria beruntung mana yang sudah membuatmu jatuh cinta nak?". Aku pun terdiam dalam lamunan mengingatnya.
2 tahun yang lalu aku bertemu dengannya tepat saat dibangku perkuliahan semester 3. Dia sosok yang tegas, bijak, humoris, hangat, hanya saja kadang dia sedikit kasar dan keras. Entah bagaimana rasa ini bisa jatuh begitu saja. Saat melihat senyumnya, saat mendengar suaranya, saat ngobrol dan chatting dengannya, Ah semua tentangnya begitu indah. Beberapa perubahan muncul dalam diriku dari yang malas mandi jadi rajin mandi, mulai mix and max pakaian, bisa make up uh yes. Bahkan teman-teman dekatku pun merasakan perubahan dari diriku. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik saat di dekatnya, tapi mungkin dia tidak mengetahuinya.  Tiba-tiba semua berubah sejak dia     (gadis cantik) itu datang dalam hidupnya. Cemburu ah jangan ditanya lagi pasti itu. Ternyata aku bukan dan mungkin tidak akan pernah menjadi pilihannya. Beberapa momen mesra mereka begitu membuat hatiku terkoyak. "Cintaku tak berbalas Tuhan, berilah kekuatan dan keikhlasan". Selang bulan demi bulan pun berlalu. Ternyata jalinan cinta mereka berakhir. Kau tahu betapa bahagianya aku saat itu. Tapi tetap saja sebahagianya aku tetap dia bukan milikku. Oh Tuhan apa yang aku harapkan darinya. Sejak saat itu aku mulai dekat dengannya kembali. Dia membuat hari-hariku menjadi lebih berwarna. Saat bertemu dan memandangnya selalu dalam hati berkata Tuhan hentikan waktu sejenak saja. Aku ingin memandanginya terus seperti ini. Tapi disisi lain aku takut dan aku gak punya hak. Lagi-lagi soal hak. Perhatian-perhatian itu sontak membuatku tak ingin kehilangannya. Tapi di sisi lain aku takut kembali terulang saat aku harus terluka melihat dia bersama yang lain. Dan akhirnya ketakutanku pun terjadi (dia bersama gadis cantik berpipi cabik). Sungguh tak kuasa aku menahan semuanya. Dan ini terjadi untuk yang kedua kalinya "Cintaku tak berbalas".
Kau tahu, sudah berapa lama aku mencoba berhenti. Sudah berapa lama kau mencoba melupakan. Hari-hari yang terlalui karena menyukainya itu terasa menyakitkan, karena ia tak pernah memperhatikan. Perhatiannya tak pernah tertuju kepadamu, hatinya hanya tertuju kepada wanita itu dan ia lebih memilih berhujan-hujanan di atas cintanya dan bukan cintamu yang turun dengan sendu.

Aku tak pernah berusaha menatapnya terlalu lama, aku hanya sanggup memintanya dalam do’a. Do’aku selalu sama selama bertahun-tahun – meminta Allah untuk menjadikannya milikmu. Hari demi hari terlalui memintanya dalam diam, tapi sekarang Allah tak menjawab do’a-do‘a itu. Aku – layaknya hujan yang jatuh ke tanah meninggalkan jejak kubangan di atas tanah yang kotor. Jatuh begitu saja, jatuh yang menyakitkan karena tak pernah sekalipun dapat jatuh di hatinya. Membiarkan air mata turun tak tertahankan, karena melihatnya lebih memilih wanita yang duduk di sana dan tak pernah sedikitpun melirikmu yang jatuh terluka dengan sia-sia.
Dia tak akan pernah tahu, betapa sulitnya dirimu menghapus bayangnya dalam duniamu. Aku tahu, berulang kali berusaha menutup mata, berusaha menghilangkan kehadirannya dari memori menyedihkan itu. Tapi ternyata sunggub masih saja tak kuasa menghapusnya. Lalu ku tuliskan pertanyaan di atas kertas ,“Kenapa Allah tak mengizinkanku untuk menjadikannya milikku, kenapa?“ 
Sekarang ku mulai mempertanyakan keadilan-Nya. Sekarang ku mulai menyalahkan-Nya. Mengapa dari banyaknya pria di dunia ini, aku hanya meminta satu pria, yaitu dia – untuk menjadi milikmu, Allah tak sudi memberikannya? Akhirnya pertanyaan itu muncul kembali, “Tak cukupkah do’a yang aku ucap setiap harinya, agar menjadikannya milikku selamanya?“ Pertanyaan itu tertulis persis di bawah pertanyaanmu sebelumnya dan aku membacanya.
“Lalu, mengapa aku berdo’a?“ Kau bertanya kepada diri ini
“Seandainya aku tahu Ia tak akan pernah mengabulkan do’aku, aku tak akan pernah berdo’a memintanya. Sekarang aku sudah jatuh terlalu dalam, aku tak tahu apakah aku dapat mencintai pria lain selain dirinya. Apakah aku tak akan pernah menikah selamanya? Karena aku tak tahu bagaimana mencintai pria lain selain dirinya. Aku mengharapkannya, tapi Ia tak memberikannya. Aku memohon, agar ia dijauhkan dari wanita lain agar nantinya aku menjadi milikknya, tapi Ia malah memberikan wanita lain untuknya. Salahku di mana? Hatiku terkoyak dan aku tak tahu siapa yang bisa memperbaikinya…
Lalu aku terdiam…
“Ada sesuatu yang salah di sini, my dear. Mengapa sekarang aku marah kepada-Nya? Mengapa aku menyalahkan-Nya karena pria itu tak membalas perasaan yang sama? Apakah bisikan-bisikan setan itu sudah berhasil merubah hati ini menjadi kelam? Mengapa cintamu kepadanya lebih besar daripada cintamu kepada-Nya?“ Dalam hati kecil lain berkata
“Adalah benar perkataan orang…
cinta dapat membutakan seseorang dan membuat orang menjadi lupa. Lupa akan pemilik cinta sesungguhnya. Lupa bahwa perasaanmu ini tidak pada tempatnya karena mencintai seseorang yang bahkan bukan siapa-siapa. Buta bahwa kasih sayang-Nya lebih besar dibandingkan pria itu. Tidak berusaha melihat kenyataan bahwa mungkin Allah sedang menjauhkanmu darinya karena ia tak pantas menjadi pendamping hidupmu selamanya. Karena matamu tak ada apa-apanya dibandingkan mata yang Allah punya. Matamu tak dapat menembus apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya. Bisa jadi, hatinya tak seputih yang matamu lihat, bisa jadi karakternya tidak sehebat yang matamu pandang. Allah yang bisa menembusnya. Allah yang tahu watak aslinya. Allah yang bisa melihat jauh kedepan, seperti apakah yang akan terjadi jika kau menikah dengannya. Kalau memang, Allah sekarang tidak memberikanmu untuknya, mungkin memang kau tak pantas untuknya dan dia memang tak pantas untukmu. Jadi mengapa kau marah kepada-Nya?”Ujar dalam hatiku kemudian. Ibu menatapku lembut, aku mengalihkan pandangannya.
“Mengapa kau selalu bertanya-tanya dalam hati, ‘Mengapa ia tak mencintaiku seperti aku mencintainya?’ dan mengapa kau jarang sekali bertanya ke dalam hatimu, ‘Mengapa kadar cintamu kepadanya lebih besar daripada kadar cintamu kepada-Nya?“ Aku bertanya kembali tapi tak ada jawaban
Terdapat hening yang lama antara kita berdua. Jam dinding berdetak tampak lebih kencang dari biasanya. Aku masih memandangnya lembut – akhirnya ia menggerakkan kepalanya dan menatapku dengan tatapan nanar, “Kamu tahu, cerita orang-orang itu salah. Ternyata, monster  itu tidak tidur di bawah tempat tidur, tetapi dia tidur di dalam hati. Suatu saat akan terbangun dikala hati kita sedang lalai. Lalai mengingat-Nya, sibuk terlena akan dunia dan menyalahkan-Nya ketika patah hatinya. Monster di dalam hati itu terbangun, menggunakan waktu bangunnya seefektif mungkin, mengubah hatiku menjadi kelam dengan bisikan-bisikan kemarahan yang tidak ada hentinya.” Ujarku.
Hari semakin kelam. Awan kelabu itu, belum mau pergi. Bola mataku semakin kelam dan air mata mulai turun. Aku menangis, hujanpun turun lagi – Berhasil mengisi tempat kosong di jalanan yang berlubang. Air hujan di jalanan itu berubah keruh, sekeruh hatiku sekarang, “Jadi aku harus apa?”Ujarnya terbata.
Tiba-tiba ibu perkata ,“Nak kalau kau benar-benar mencintai-Nya Berdo’alah kembali kepada-Nya.

Mintalah untuk diberikan pelangi di setiap hujan yang turun lebat, rumah tempat kembali ketika kau ingin beristirahat dan cahaya terang yang tidak pernah redup ketika kau tersesat.” Jawabku sambil tersenyum. Temanku mengangkat kepalanya dan ia membalas senyumku. Awan mendung di kedua mata lentiknya sudah mulai memudar. Sepertinya pelangi itu sudah datang. 
“Pangeranmu pasti datang tepat waktu. Datang sebagai hujan yang berhasil jatuh tepat di hatimu dan kau akan dengan senang hati menerimanya. Karena ia bukan hujan yang membuatmu kedinginan. Ia bukan hujan yang menimbulkan banjir bandang atau hanya sekedar genangan kotor yang menjijikkan. Pangeranmu pasti hujan yang membawa berkah dari Allah di saat hatimu sedang benar-benar kekeringan. Jadi bersabarlah, akan ada masa di mana hujan itu datang lebih indah dari biasanya.” ujar hati kecilku lagi
Tiba-tiba ibu memecahkan lamunanku dengan mananyakan pertanyaan itu lagi. "Pria beruntung mana nak yang telah membuatmu jatuh cinta?"
"Pada waktunya nanti ibu akan tahu karena dia akan datang ke rumah untuk meminta izin membawa putrimu ini." Ujarku sambil memeluk ibuku sambil dalam hati berkata dan kalau bukan dia pasti kamu. Kalau bukan kamu pasti dia kan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Today is Nila Day!!🥳🫶🏿