BITTER LOVE

Aku gak mau bangun dari mimpi karena cuma dalam mimpi kita bisa memutar waktu kembali ke momen manapun. Yang pasti momen yang bukan dari kenyataan. Aku benci kenyataan, kenyataan memang sering mengecewakan. Aku lebih suka di keliling oleh orang asing. Karena bagi aku orang asing gak pernah bikin kecewa. Gak kayak dia. Mimpi buruk. Seperti pagi-pagiku yang kemarin. Gak semua harapan bisa jadi kenyataan. Tapi seburuk-buruknya kenyataan sekarang kan aku tetap disini dan baik-baik saja. Masa sih masih sedih-sedihan aja. Malu sama matahari pagi. Bunga matahari? :)
Kenapa sih disaat-saat seperti ini dianya muncul lagi. Bisanya cuma nge like doang. Paling cari perhatian. Dasar gak romantis. Kalau hati lagi abu-abu gini ekspresi gak bisa dibohongi. Mending cari objek yang berwarna aja. Dimana sih? Bener aja kadang memang harapan tidak ditakdirkan untuk menjadi kenyataan. Kala harapan sudah menjadi sebatas angan. Bunga matahari juga cuma bisa terdiam tertiup angin.

Benar kata pujangga, gak semua orang yang ada di hidup kita akan menetap dihati kita. Iya kayak dia. Hmm... aku merindukannya benar-benar merindukannya. Merindukan senyumnya, merindukan canda dan tawanya. Obrolan-obrolan singkat dan sangat melekat. Kami biasanya berbincang bersama di tempat yang mungkin dulunya aku tak pernah tahu dan suka. Ahh.. dan sekarang aku benar-benar jatuh cinta dengan tempat itu, hiasan lampu-lampu, kopi hangat, barista, lalulalang kendaraan lewat dan angin malam menjadi selimut. Hal itu kami lakukan saat setelah senja usai. Kopi, sepeda, senja, bunga, dedaunan, dan hujan. Aku menyukai mereka. Tapi terkadang hidup masih saja bercanda mempertemukan mereka-mereka yang tak mungkin bersama. Hari ini ditempat yang berbeda mungkin karena tempat yang sebelumnya terlalu menyayat kali yaa, aku datang sendiri karena aku ingin merindukanmu, merindukanmu selalu terasa indah bagiku. Mendung mulai menyelimuti hati, aku diam dan kau juga diam. Terbesit dalam pikiran, Jadi inikah ujung obrolan kita. Okay, don’t worry. Kamu masih ada dibumi dan masih bisa melihatmu (meski dari jauh) itu sudah cukup bagiku. Kisah yang selalu terlewatkan, sungguh menyedihkan. Lengan itu, iya lengan itu. Tiap kali lihat lengan itu selalu menuntunku untuk sadar diri bahwa lengan itu sudah menjadi tempat bersandar yang lain. Lengan yang juga selalu menahanku untuk tetap tinggal. Tuhan... apa salahku dibagian ini? Tidak layakkah aku bahagia (bersamanya)? egoiskah aku? Banyak yang bilang aku tak peduli dan lebih parahnya tidak peka lagi. Tapi bagi mereka yang pernah terluka hebat dan belum pernah merasakan jatuh cinta lagi apa masih layak hal tersebut dilontarkan? Entah akunya yang polos atau yang terlalu bodoh ya. Tapi rasa ini memang tak pernah bisa berbohong. Doa yang terurai bersama derai tetesan air mata adalah saksinya. “ BAHAGIA TAK MESKI HARUS BERSAMA” kata terakhir yang ia ucapkan. Jika kamu sumber bahagiaku bagaimana? Apa itu masih bisa berlaku juga untukku. Kau tau yang paling menyedihkan dari cinta bukanlah kehilangan tapi membiasakan diri sendiri lagi ketika kau benar-benar mencintainya, apa yang lebih menyakitkan dari segala yang berakhir? Ya segala yang akhirnya belum pernah dimulai. Seperti ayunan; digantung, terombang ambing, dipaksa bergerak, membahagiakan yang datang dan pergi hingga lagi-lagi ditinggal sendiri. Mungkin disini aku yang terlalu berlebihan. Harusnya aku tidak gr duluan, harusnya aku bisa menahan untuk tak menaruh hati padamu,, harusnya aku tidak tidak mencintaimu. Karena rasanya kau mencintanya, namun ia tak membuatmu merasa dipilih, karena aku hanya sebatas pilihan-pilihan yang tak akan pernah kau pilih. Harusnya aku memahami ini, dan hanya akan jadi mimpi. Iya hanya sebuah mimpi anak ingusan pada pria dewasa yang mustahil menjadi miliknya. Terima kasih sudah menjadi mimpi-mimpiku... aku yang mencintaimu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Today is Nila Day!!🥳🫶🏿