ChildFree? Natural Anti-aging bikin awet muda? Hmmm...
Beberapa hari terakhir ini jagad sosial media sedang ramai akan statement salah satu youtober dan selebgram @.gitasav dikomentar salah satu postingannya
(not having kids is indeed natural anti aging. You can sleep for 8 hours every day, no strees hearing kids screaming. And when you finally got wrinkles, you have to money to pay for botox).
Menurut gita, childfree merupakan
rahasia awet muda bagi dirinya dan wanita lain yang memutuskan untuk tidak
mempunyai anak. Hal ini disampaikan gita saat membalas komentar salah satu
warganet yang memuji wajah awet mudahnya. Banyak sekali netizen yang
marah-marah dan tidak terima dengan pernyataan gita tentang hal itu. Bahkan sampai
menghujat gita dengan kata-kata yang menurutku sangat tidak layak untuk
didengar. Padahal katanya women support women eh ini kok begini yaa jadinya. Aku
adalah salah satu follower gitasav di beberapa platfom sosial media. Aku selalu
suka dengan konten dan cara pandang dia. Selalu ada hal baru yang bisa ku pelajari darinya. Malam itu setelah rame sekali perbincangan ini gitasav live streaming
di instagram bersama suaminya. Disitu banyak sekali netizen yang menghujat
bahkan sampai dia emosi sekali menjawabnya. Terus joinlah seorang mbak-mbak
yang ingin ngobrol sama gitasav. Dia bertanya kenapa kamu berstatment seperti
itu? Gita pun menjawab itu adalah sebuah dark jokes aja bagi seseorang yang
memilih jalan hidupnya sebagai a people not having a kids aka childfree dan di
penjelasan live streaming itu gita juga bilang kalo mereka (netizen) tidak bisa
menerima dark jokes ku ya berarti kita tidak sefrekuensi aja dalam hal candaan.
Aku memahami point penting dari live streaming itu. Karna kejadian
itu adik dari gitasav pun dibanjiri dengan dm warga netizen. Dia hanya
berkomentar, “dia sangat menghargai apapun yang menjadi pilihan hidup kakaknya,
asal kakaknya bahagia dalam menjalani,
dia justru sangat bangga sekali dengan kakaknya, karna kakaknya adalah tempat
untuk dia sharing apa saja terutama saat dia dalam masa-masa hamil
sampai sudah menjadi ibu sekarang ini.
Perbedaan pandangan hidup yang diambil gitasav selalu menjadi hal yang di ributkan oleh netizen. Aku pribadi pun sebenernya kurang sependapat sih dengan gitaasav dalam hal ini. Tapi mengambil sudat pandang lain aku pun menyadari beberapa hal yang menurutku itu jauh lebih penting dibandingkan dengan statement gitasav. Waktu itu aku menemukan postingan dari mas @.adjiesantosoputro seorang praktisi meditasi yang mengatakan
“ada yang memilih childfree, merasa lebih baik dibandingkan yang punya anak dan jelekin yang punya anak. Ada yang memilih punya anak merasa lebih baik dibandingkan childfree dan jelekin yang childfree. Barangkali sebenernya kita sama-sama takut, jalan hidup yang berbeda jangan-jangan benar. Takut, jalan hidup yang dipilih jangan jangan keliru. Makin takut makin agresif”.
Selama ini banyak dari kita tidak menyadari akar masalah yang ada yaitu rasa takut. Yahh kita takut sama orang lain yang memilih jalan hidup yang berbeda dengan kita sehingga kita cenderung anggap hal tersebut adalah ancaman yang menyerang kita. Jadi kita bersikap agresif pada hal yang berbeda. Padahal realitanya kita ngga bisa sepenuhnya mengetahui bahwa yang paling bener menjalani hidup ini semestinya bagaimana.
Apalagi flashback membaca blog
gitasav yang dulu sekitar tahun 2015 yang mendambakan seorang anak, yang nulis
mau sekolahin anaknya dimana? Mau masukin pesantren atau engga? Terus aku
pernah baca juga dibuku gitasav yang berjudul "Rentang Kisah”. Di bukunya ada
tulisan terluka dan sedih soal ibu di bab pertama. Dia iri sama anak-anak lain yang memiliki
hubungan harmonis dengan ibunya. Aku pun mulai sadar liat seorang gitasav mulai
berubah. Liat tiktoknya yang toxic mom bener-bener ke notice kalo dia lagi gak
baik-baik aja. Ada trauma yang mendalam, ada ketakutan menyakiti makhluk kecil
yang bernama “anak”. Apalagi di blog gitasav juga sempet di bahas alasan gitasav
memilih childfree dijelaskan bahwa dia menemukan bahwa dirinya dibesarkan oleh
ibu yang narsistik, dan ini pun bukan salah ibunya. Dia sampai sekarang masih
merasa ibunya narsis karena pengalaman buruk yang ia alami di masa lalu. Dia merasa
sifat itu menurun ke dirinya. Dan dia beranggapan ini sangat bahaya dan ia
merasa seperti ia bukan sosok yang ideal jadi seorang ibu. Dan itu merujuk kembali
kepada postingan mas adjie. Rasa ketakutan dalam memilih jalan hidup. Gitasav
dan rasa takutnya.
Disini aku berpendapat yang mungkin agak berbeda dengan pendapat emak-emak yang berkomentar ngamuk-ngamuk di fyp. Karna menurutku komentar di situ valid ketika faktanya adalah banyak banget ibu-ibu yang punya anak jadi nggak bisa merawat diri. Dan itu memang ada gitu loh. Tapi gak semua juga yah karna ujung-ujungnya yang ngatur itu semua adalah duit yaa hehe karna banyak juga publik figure lain yang tetep cakep kan dan mereka juga punya anak yak karna punya duit tadi.Hhehe :P Gitu ya… Cuma mungkin yang perlu dikorelasi adalah cara gita ini berkomentar nih mungkin orang expect kalo dia dibilang cantik yaa udah tinggal jawab makasih aja :X (wkwk aku banget tuh). Cuma kan dia orangnya memang vocal yaa dan dia bilang komen itu tuh di video yang memang dia lagi ngomongin childfree maksudnya pov di situ adalah ngomongin dia umur 30 tahun dan dia nggak punya anak. Jadi menurutku komen itu nggak tiba-tiba. Jadi ada sangkut pautnya dengan video di situ. Oh yah aku di sini memberikan tanggapan dari kacamata diriku yang mau punya anak loh yaa... (doain yaa teman-teman hehe :P)
Cuma yang jadi masalah adalah kita tau kan kalo negeri Konoha itu gimana. Masyarakat Konoha itu sekalinya disenggol langsung hmmm udahlah gitu… kalau dihubungkan dengan psikologi mengenai tentang kecerdasan, manusia memiliki beberapa kecerdasan. Diantaranya manusia itu memiliki kecerdasan IQ dan EQ. orang -orang yang memiliki kecerdasan Emosional (EQ) terlihat dari bahagia sama dia berinteraksi sosial (hehe ngomongin gini jadi inget skripsi). Orang yang punya EQ tinggi cenderung gak enakan, gak bisa bilang enggak, bergotong royong dan lain-lain. Sedangkan yang punya EQ rendah cenderung individualis, cuek, dan focus ke dirinya sendiri. Gitasav ini kalo dilihat dia fokus ke dirinya sendiri. Hal tersebut yang membuat dia EQnya rendah kalo dilihat dari reaksi dia pada waktu berkomentar itu. Dan disini yang jadi masalah juga adalah orang Konoha itu EQnya tinggi mereka peduli sama omongan orang, pendapat orang, opini orang. Dan orang yang dengan EQ rendah mereka bodo amat, ga peduli. Jadi opini apapun yang gitasav berikan itu valid gak ada yang salah sama sekali. Cuma mungkin kedepannya lebih baik kak gitasav nggak perlu bikin di komentar gitu ya karna bakalan di goreng-goreng terus dan ujung-ujungnya akan menjelekkan dirinya sendiri. Karna menurut ku semua ujung-ujungnya emang duit.
Gini loh mau punya anak 8 sekalipun kalo misal punya banyak duit yaa kamu tetap
cantik dongs. Karna kamu bisa perawatan tiap hari, ke klinik sana sini tapi
coba deh kalau misalkan uangmu, kamu pakai untuk beli susu anak atau segala
macam kebutuhan anakmu yaitu make sense. Jadi sebenernya komen di situ adalah
tujuannya aku yakin ya dari apa yang ada di reels di situ karna di reels itu
dia ngomongin soal dirinya di umur 30 tahun dan childfree. Awet muda itu hanyalah sebuah upaya, menjadi tua adalah kenyataan hidup adanya. Terlepas dari segi
agama maupun apapun itu, semoga kita semua selalu menjadi pribadi yang lebih
baik lagi tanpa menyakiti apa yang menjadi pilihan hidup orang lain. Karna yaa
kita manusia tidak ada yang benar-benar tau apa yang membuat manusia lain itu
bahagia kan.... :)
Komentar
Posting Komentar